i’m not living, i’m just killing time.

September 23rd, 2007 by shespider

gila, baru tidur 2 jam gue (ngga berarti sih kalau dibandingin sama alfred borden yang ngga tidur 2 tahun, but still). ini pun setelah dipaksakan tadi jam 7 pagi untuk tidur, kalau nggak gue akan tetap terjaga.

ini pun gue nulis di sini nggak jelas juga apa tujuannya, selain gue ngga tau lagi mau ngapain. entah kenapa, tapi gue merasa blog gue ini mulai tidak menarik (dan semua orang membatin, ‘lo pikir dari dulu pernah menarik cha???’).
that, or i lose my ability to write again. by again, maksud gue adalah writers block. that, or my intellectual skill flopped.
that, or perhaps i just don’t know what to write. nothing seemed to amuse me these days. nothing seemed to grab my attention. by nothing –before anyone i care feel offended– i excluded living things.

anyways.
just finished read ‘by the river piedra i sat down and wept‘. i’ve never been a fan of paulo coelho. i even think the alchemist is so totally overrated. but this one, i enjoyed reading it. the words are simply amazing.
listen to this. i mean, read.

i observed the woman i had been up until then: weak but trying to give the impression of strength. fearful of everything but telling herself it wasn’t fear –it was the wisdom of someone who knew what reality was. putting shutters in front of windows to keep the joy of the sun from entering –just so the sun’s rays wouldn’t fade my old furniture.
there she is, in the corner of the room –fragile, exhausted, disillusioned. controlling and enslaving what should really be free: her emotions. trying to judge her future loves by the rules of her past suffering.

ziiing.
reminds me of some women i know. one of them is staring back at me in the mirror.

a weekend in the city

September 2nd, 2007 by shespider

Yup, this is my first weekend in town after 
2 months. And I’m not exaggerating.

Mulai September, no more traveling at weekends to the middle of
nowheres. No more novelties. No more
rushing and running for boarding at the airports. No more great local food. No
more having lack of sleeping that made my under-eye circles turned even darker
week to week. No more weird and hilarious nightclubs that were musically 10
year behind.

Finally. No more going out there on the roads for the same
show over and over again.

It’s relieving, yet making me sad. Gue selalu benci mengakhiri sesuatu. Tapi yang paling membuat gue sedih adalah: no more clear
blue skies and open green field for my sore eyes at the end of the weeks.

Clear blue skies. I fell in love with the sky ever since I
can’t remember when. Inget nggak dulu ada jingle iklan yang liriknya begini:
"I love the blue of Indonesia…
it’s my kind of blue" (rokok kompetitor sih, tapi kan gue ga nyebut brand, hehe). Mengingat
sehari-hari nggak pernah ketemu langit biru di Jakarta,
rasanya menyenangkan sekali bisa melihat biru itu setiap akhir minggu di 10 kota yang gue tandangi
dalam 10 minggu terakhir ini. Dengan modifikasi yang berbeda-beda di tiap
daerah tentunya, but still… it’s the bluest blue.

I feel so blessed. Not living in this country (belum se-ekstrem
itu, mungkin perlahan-lahan), but having to experience it all. I fuckin earned
it!

And it’s a beautiful country, indeed.

Ajaibnya, Kompas Minggu (26.08) kemaren, tepat di hari
terakhir gue roadshow, headline di halaman depannya berbunyi: "Mengelola Rasa
Cinta Tanah Air". Meski isi artikelnya adalah tentang ekspedisi ke tanah
Papua, entah kenapa gue merasa relate banget sama judul itu. Mungkin 2 bulan
ini adalah pengelolaan rasa cinta tanah air yang bagus buat gue. Sebenernya gue
bukan nggak cinta tanah air, tapi adaaaa aka hal yang membuat gue pengen flee aja dari sini.
Mungkin juga bukan karena tanah airnya sih, tapi karena sifat dasar gue yang selalu
pengen flee dari apapun *curhat colongan*

So anyways, back to the reason why I’m here. Lama sekali
nggak menyambangi blog ini. Yahh.. menelantarkan hal-hal di sekitar gue.. bukan
hal baru *curhat colongan #2*. Mestinya gue bisa menyulap blog ga penting ini
jadi sebuah travel journal yang seru, menulis semua yang gue alami tiap kali
gue pulang, tapi rasa malas gue untuk melakukan sesuatu yang rutin tetap tidak
terkalahkan. Jadi marilah kita recap semuanya dalam satu kali posting saja.
Besides, I might bore you all.

Sebetulnya perjalanan gue ini lebih menyerupai a long chain
of irony. Gimana nggak. Jalan-jalan di Solo (terutama bagian Solo Baru) berasa
jalan di Boulevard Kelapa Gading. Malang kayak Bintaro sektor 9. Pontianak kaya Jakarta Kota. Dan seterusnya (Gue lagi berusaha mengingat Makassar mirip
sama bagian Jakarta sebelah mana, tapi gue agak
lupa karena Sabtu malam di Makassar dihabiskan
dengan mabuk-mabukan, hehe).

Kesimpulannya, Jakarta ini
emang lebih mirip kampung besar, bukan kota dalam arti yang sebenarnya.
Nggak jelas gini tata kotanya, nggak ada pusat (karena semua tempat adalah
pusat), nggak ada suburb.Yang lebih aneh lagi, kota udah nggak jelas bentuknya
kayak gini masih mau dibikin jadi Megapolitan dengan menggabungkan area-area
‘bodetabek’ jadi satu wilayah Ibukota. Bodoh.

Berkat tur keliling 10 kota ini juga gue merasakan
menaiki berbagai maskapai penerbangan domestik (serta merasakan betapa hancur
lebur dan terbengkalainya Terminal 1 Soekarno-Hatta. Gimana pariwisata lokal
mau maju, huh). Gue menaiki mulai dari GARUDA (stands for: Good And Reliable
Until Delay Is Announced), Lion Air, Adam Air, Batavia Air, sampai Sriwijaya
Air. Nggak ada bedanya gitu satu sama lain, ya tingkat kebersihan pesawatnya,
kepiawaian pilotnya, sampai kualitas pelayanannya. Gue jadi nggak habis pikir
sih sebenernya, kenapa orang nggak mau menaiki suatu airlines karena
reputasinya buruk akibat pernah crashed. Lagipula, bukankah kita bisa mati di
mana aja? Kepleset di kamar mandi, misalnya. Atau keselek. Atau hal-hal minor lainnya yang bisa terjadi sehari-hari. Hehehe… tentu saja ini datang dari
seorang frequent flyer seperti gue, yang merasa bahwa acara take-off dan
landing pesawat adalah a reason for living. I’m in love with
everything that allows me to fly *curhat colongan #3*

Kedatangan gue ke kota-kota pertama yang harus gue singgahi,
Bandung-Medan-Surabaya, bukan untuk yang pertama kalinya. Ya iyalahh, Bandung kaleee.. no
explanation needed (apalagi dengan adanya tol Cipularang yang pernah gue anggap
sebagai inovasi terhebat dekade ini, meski sekarang gue nggak pernah ada
kepentingan lagi ke Bandung *curhat colongan #4*). Terus, pekerjaan gue sebelumnya membuat gue sudah
beberapa kali mendatangi 2 kota terbesar di Indonesia setelah Jakarta, yang mana adalah Medan dan Surabaya.

Tapi kota-kota berikutnya sangat menarik. Menyenangkan banget bisa membandingkan kota satu dan
lainnya. Makassar dengan kegilaan
orang-orangnya dalam menyetir (sumpah sob, gokil abis), berbanding terbalik
dengan Solo yang kecepatan rata-rata tiap kendaraan adalah 20km/jam. Dan
Malang… ah, gue jatuh cinta sama Malang.
It’s so serene I could cry. I would love to spend my old days there (but since
I will die young –live fast, die young!- tentu saja itu tidak akan terjadi).

Gue pun akhirnya bisa mendaratkan kaki di pulau Kalimantan,
komplit di keempat propinsinya (kalau betul hitungan gue ada 4 propinsi di sana ya, hehe). Melihat
pulau ini dari udara saja membuat gue berpikir bahwa kita punya negeri yang
teramat kaya. Di atas Kalimantan Barat gue melihat kelokan sungai yang nggak
terputus. Di atas Kalimatan Selatan gue melihat garis pantai panjang dengan
lautan berwarna gradasi biru-hijau-biru. Di atas Kalimantan Timur dan Tengah
gue melihat hamparan hutan hijau yang membuat Borneo ini dikatakan sebagai paru-paru dunia (meski penduduknya rajin mengotori
paru-parunya dengan “merokok” – baca: pembakaran hutan, red.).

Gue bertemu banyak kejutan di Pontianak. Well, untungnya bukan kejutan mistis a.k.a kuntilanak (Pontianak dalam bahasa Melayu artinya
kuntilanak, mind you.  Dinamakan demikian karena dikenal sebagai gudangnya hantu bentuk perempuan berambut panjang itu. Dennis dan Daniel baru bilang ke gue pas pesawat
mendarat di bandar udaranya pula. Udah nggak bisa kabur lagi kan tuh). Tapi sungai Kapuas emang sinting. Lebar banget kaya laut. Udah gitu kalau malem-malem bisa naik
semacam gondola gitu melewati kolong-kolong jembatannya (Venice, anyone?). Gue
juga baru tahu kalau pada satu hari tertentu di bulan Mei (dan hanya berlangsung selama beberapa menit saja), tepat di tugu khatulistiwa, kita akan kehilangan bayangan kita
karena sinar matahari tepat menyoroti garis khatulistiwa. Keren kan. Selain itu, gue cukup terkejut
melihat betapa kota ini sedikit mirip sama
Frankfurt dari segi tata kota. Old Town
dan New Town dipisahkan oleh sungai (cuman beda di nama –di sana Main, di sini Kapuas— sama di warna airnya aja –di sana biru, di sini coklat pekat–, hehehe).

Kesempatan untuk mengunjungi hometown-nya Ian
Kasela, Banjarmasin, tidak gue lewatkan (hahahaha jiji abis sih kalimat ini). Apaan ya yang khas dari Banjarmasin selain soto Banjar dan lampit? Mungkin pengalaman pas jalan-jalan di pertokoan pinggiran sungai Barito, nggak taunya ada
kulit biawak nangkring di dinding. Males gilak *diucapkan ala abege*. Ada juga restoran yang menyajikan menu sate buaya. Berasa jadi Crocodile Dundee *God bless
Steve Irwin*. Dari Banjarmasin, gue melakukan perjalanan darat selama 4 jam
lebih ke sebuah negeri antah berantah bernama Barabai. Kota yang lebih mirip
kompleks perumahan saking kecilnya, tapi warganya pakai handphone Nokia E90
(yang harganya pernah mencapai 15 juta)
buat foto-foto sama Nirina dan Junior. How ironic is that?

Dua kota terakhir yang gue
datangi adalah Balikpapan
dan Palangka Raya. Well, Kalimantan Timur dengan Balikpapan-nya adalah sebuah
contoh bagus yang mestinya bisa membuat pemerintah pusat belajar banyak. Bahwa
pusat niaga dan pusat pemerintahan memang seharusnya tidak disatukan. Ini yang
terjadi di Kaltim. Samarinda jadi ibukota, sementara Balikpapan jadi pusat niaga. And it works.
Why, oh why, pemerintah pusat nggak pernah melihat betapa efektifnya pemisahan
ini, apalagi di negara kepulauan begini. Pulaunya ada 13 ribu lebih pula. Segitu banyaknya pulau tapi segalanya mesti diabrek—abrekin di Jakarta? Ah ya sudahlah.

Mau tau ngga yang lebih ironis lagi? Untuk mencapai Palangka Raya yang
terletak di Kalimantan Tengah, dari Balikpapan gue harus naik connecting flight di Jakarta.
Hahaha.. padahal kalau ada flight langsung, perjalanan hanya perlu ditempuh
selama paling sial 30 menit. Ini gue harus menyediakan waktu selama 5 jam.

Palangka Raya is perhaps another example of irony. Contrary
to the name, Palangka Raya (Great Palangka) isn’t that great, really. In term
of size, of course. Dulu, bokap gue dan gue pernah berdiskusi tentang ide
memindahkan ibukota Indonesia ke sini. Kota ini memang out of nowhere, but exactly in the middle. (and a friend of mine
said to me just the other day that this city was built from scratch by Soekarno
to become a capital city! Keren juga kan pemikiran gue sama kayak Soekarno, hahaha).

Palangka Raya tadi sekaligus menutup rangkaian perjalanan panjang gue.

Dan sekarang saatnya gue menghela nafas panjang. Akhirnya berakhir juga semuanya. Dengan bangganya, sekarang gue bisa bilang kalau tinggal Papua saja yang belum diinjak kaki gue, dari semua pulau besar di Indonesia.

Akhir kata (hehehehe), thank God for that job, really. Nggak hanya buat kesempatan jalan-jalan itu, tapi juga buat ketemu orang-orang yang sangat menyenangkan secara personal maupun profesional, serta untuk semua pelajaran baru dalam hidup. Mengambil pekerjaan itu, terlepas dari segala down-in-the-dumpsnya, adalah salah satu keputusan paling betul gue di umur 27.

Now, move on with the show.

 

all you need is love.

June 23rd, 2007 by shespider

Love is overrated. So much that I want to puke all over my shoes.
Sure, it makes you happy and swifty (thank you, dopamine/norepinephrine/serotonin whatsoever). And it makes you have the strange magical ability to push your creativity to the max (refer to the masterpieces by Shakespeare, da Vinci, even Noel Gallagher).
Also makes you do stupid things (based on everyone’s personal experiences, no further explanation needed).
But lifting you up where you belong? Moving a mountain? Making the world keep turning? Come on.
The only thing love brings is a thought-terminating cliché.
Falling-in-love people make me sick. They think all they need is love.

…. which is why I’m sick of my self now.

a life less ordinary.

June 16th, 2007 by shespider

Ada sesuatu yang aneh pada hari ini. Mungkin kosmik lagi nggak bersahabat. Tadi semua orang sakit, hingga segala rencana post-prüfung pun batal. Semua langsung berhamburan pulang, termasuk gue. Tanpa perlawanan. Tanpa perhitungan.

I just want to be home. I’m hating everyone today. Dan badan gue pun mulai berantakan karena tiap hari harus pulang 18 detik menjelang matahari terbit.

Sebenernya sedih banget karena tadi terakhir ketemu anak-anak. This is the best I got so far.
Hehe.. the emo me. Sebel sih kalau mikir Inti bakal cabut ke Frankfurt tanggal 13 bulan depan dan Indri ke Tokyo tanggal 16-nya. Et moi? Gilaaa… I reaaaally was that close to move out to Milan in July. That close. Scheisse. Oh well. Faith intervened somewhere in the middle of my plan. It always did. My time will come, though. Only the day after tomorrow belongs to me, quoting Nietzsche.

Still I hate it when a phase of my life has to be over.
I hate it when I have to say goodbye to something.
Padahal, I despise routinity and get bored too easily on everything.
And most of the time, I just want to speed up time and rush to the end of everything.

See, I am that sick. I’m a walking contradiction.

I mean, look at me now. I got a great life, I should and could not ask for more, but I just want  all this to be over soon. All I want to do now is fast-forwarding time. I feel so drained and worn out. Even when I know for sure how few months from now, I’ll be missing this phase.

Sometimes I just want an ordinary life.
Mine is too full of surprises it got me suffocated.

Rik, I’m coming to you, sooner than you expect.

I quit, therefore I am.

May 17th, 2007 by shespider

Today, tepaaatttt setahun since I say hello to my freedom. How time flew.
Teteep aja masih ada orang yang mempertanyakan kenapa gue bisa resign cuma buat ‘menggelandang’ ke Eropa, kenapa gue bisa membuang karir sebagus itu begitu aja. Karir? Hahaha… fu** that.

Quitting my permanent job is, if any, the best decision I made in years. I hate office politics. I hate listening to people complain all the time and watching bosses pick favorites. I hate routinity. Now, I’ll never have to deal with any of that again, and I’ve practically doubled my income from this and that. I also control my own schedule now. I’ve never been a morning person anyway, and I can say goodbye to those dreadful morning traffics. And let’s just say, I like to sleep in. How cool is that? I have never been happier, not to mention healthier.

Maybe, just maybe, I’ll have a permanent job again in the future. But even if I do, then it must be something better than this. Seriously, right now, I can’t think of anything better.

My only question is this, how come you guys still go to the same office that makes you spend all of your time complaining? Quit for once, find something better. You really  deserve better.

let me do the talking

March 16th, 2007 by shespider

Indonesian is often considered one of the easiest languages to learn for adult foreigners, because of unsophisticated and regular grammar and phonology, said Barry Farber in How to Learn Any Language.

— Unsophisticated? How very rude of you, Mr. Farber.

Indonesian, including Malays and other variants, are considered as simple and soulless with no real grammar and an insufficient vocabulary, said Wikipedia.

— Soulless? Thank you for the insult, Wikipedia.

Whatever. That’s not the reason why I crave for as many Indo-European languages I can grip, though. [So far, my brain can only manage English -d'oh!- and German from the Germanic root… plus Italian, Spanish, and French from the Romanic root. Scandinavian languages are my nearest next goal, especially Icelandic].

Yes, Indo-European has the largest numbers of speakers in the world today, with its languages spoken by approximately 3 billion native speakers. BUT the real deal why I keep studying new languages is because I’m just in love with it. I think of language as the best invention humanbeing ever created. Hands down. Not the internet. Not putting man on the moon. Not the skyscrapers. Not the military aircrafts (bless the aircrafts for being so beautiful and allow us to fly, though *obsessed*). It’s language. It shows how brilliant human being once were, and still are, for keep inventing and evolving those twisted words. For the passion to communicate with each other. For making connections. Language creates culture. — And yes, they really were brilliant, those ancient Europeans for creating such complex languages (even though now and then while I’m browsing my French textbook I still don’t get it how in the world French people could be so inefficient, i.e.: writing a hell long of “Q’uest-ce que c’est”, for only to be read as : kes-ke-se).

I think I will need as many languages as my brain can stand, also because now I know that I live to travel. (and based on experiences, it’s fucking frustrating being lost in deserted Denmark villages without anyone understands anything other than Danish. Or looking for Tintin museum in Bruxelles without result because at that time I haven’t learned any French word).

I still long to study Greek, Sanskrit, and Mandarin, and Japanese, and Russian, maybe Arabic.. but let us first stick to languages that use the same alphabet system that I well-acquainted with.

Bahasa Daerah is something else I MUST conquer, at least one from each main island. Right now, I understand none, shame on me (well, passively this and that, but passive speaking strictly says: none-speaking). And why oh why should I learn those? Because I believe that this nation also has brainy ancestors who create complex languages rather than the simple, so they say, national language we speak right now. And we have to keep those things alive.

(but hold it right there. I personally think our language is not simple at all. Lack of grammar complexity, yes. But simple? Hell no. Tell me, do you have perfect 10 in your final examination of Bahasa Indonesia in SMU? I doubt it. –-but of course, this debate will continue on our messed-up school grading system, but that’s not my point here).

I have this strange idea of many Bahasa Daerah(s) were also influenced by Indo-European. Otherwise, how can you exlpain the word ‘paur’ in Sundanese that means ‘in fear’ with ‘paura’ in Italian that means… ‘fear’?

Haha. I know, I’m geeky in this area, but I can’t help it.
It is just something that will forever be intriguing for me.

There.

I shall end this post with the infamous quotation from Savage Garden’s beautiful video Crash and Burn: Communicate. Any way, any how. (Even in a Hopelandic-kinda-way the way Jónsi does. Oh, bless Jónsi Birgisson for existing).

important P.S: I despise everyone who blurted that familiar line “Do you speak Bahasa?” How ignorant. And rather stupid, I must say. I mean, tell me, do you speak language? D’oh. Talking about grammatical failure. Foreign speakers aren’t even acceptable enough for that, and now locals are also doing this. I can’t believe you people.

hey. sounds familiar.

January 23rd, 2007 by shespider

Is it just me or is there seriously a repeating pattern in songwriting these days? I mean, how similar can two songs can be? How far can you go until it becomes illegal and they start to call it plagiarism?

Pernah nggak sih lo ngedenger satu lagu, terus langsung teringat lagu lainnya yang miriiiiiip sama lagu yang lo denger itu? (bukan, bukan musik sampling. itu lain lagi). Gue yakin pernah deh, meski mungkin nggak se-obsesif/kompulsif gue. Soalnya gue sering banget ngalamin kayak gini, terutama untuk musik pop Indonesia.  Dan gue jadi sering kesel sendiri. Ini membuat pengalaman mendengar radio jadi kurang menyenangkan buat gue. Karena bukannya menikmati apa yang gue dengar, gue malah jadi keseringan gemes berusaha mengingat-ingat di mana gue pernah mendengar nada tersebut sebelumnya. Such a disturbing behavior.

Gue jelas cukup aware kalau fenomena lagu mirip kayak gini nggak hanya terjadi di kancah (halah, kancah..) permusikan dalam negeri. Luar negeri juga pasti banyak (misal: Blower’s Daughter Part 2-nya Damien Rice yang bisa dinyanyiin pakai lirik Creep-nya Radiohead). Tapi entah kenapa, yang kebanyakan nempel di otak gue justru yang dalam negeri. Mudah-mudahan karena gue concern sama perkembangan musik Indonesia, bukan karena prevalensinya yang lebih tinggi.

Please note that I’m not trying to disgrace anyone here, this is purely my opinion. And of course, it is clearly a subject to error and misjudgment.

Now allow me to mention some of them, and please, do correct me if I’m wrong (dan tambahin kalau ada yang belum disebut, hehe). Menurut gue, single pertama Letto (gue lupa judulnya) punya refrain yang sama persis sama Two Way Monologue-nya Sondre Lerche. Lagu hit-nya Bunga Citra Lestari yang belakangan diputer di mana-mana itu, mirip banget sama Turn My Head-nya Live. Intro gitar di Ada Apa Denganmu-nya Peterpan is definitely a blatant rip from Mew’s Am I Wry? No.

List-nya bisa jadi panjang kalau melihat balik ke 10 tahun terakhir. Misalnya, menurut gue, pernah ada satu waktu di mana Melly Goeslaw anehnya punya pikiran yang serupa abisss sama the great Rivers Cuomo. Soalnya, lagu Diam dari Potret sama persis sama Say It Ain’t So-nya Weezer. Bagaimana mungkin? Dan coba dengerin lagu Bagaikan Langit, terutama di bagian bridge-nya. Rasanya kayak ngedengerin salah satu lagu dari album Pinkerton-nya Weezer.

Jaman dulu, gue inget tuh lagu Anugerah Terindah- nya Sheila on 7 yang dibilang ngikutin lagu Father & Son –nya Cat Stevens. Pernah juga ada yang ‘ngeh’ kalau lagunya Beby Romeo yang dinyanyiin sama Chrisye (gue lupa judulnya) punya refrain yang mirip (bahkan sampe liriknya, man) sama I Don’t Have the Heart-nya James Ingram. Masih inget sama refrain Pupus-nya Dewa? Itu lagu selalu ngingetin gue sama lagu He Aint Heavy He’s My Brother-nya Neil Diamond.

Kenapa bisa begitu ya?

Gue ngerti cuma ada 7 not tersedia dalam tangga nada (ini alasan yang dikemukakan Nicky Astria waktu jaman dulu di-confront kenapa lagu Kau ciptaannya persis plek-plek sama Without You-nya Air Supply). Artinya, sejauh apa sih kita bisa improvisasi dari 7 not ini? Gue bukan anak jurusan matematika yang bisa ngitung probabilitasnya (males juga, kali). Jadi… mungkin lagu yang tercipta di dunia juga seputar itu-itu aja ya. Katanya sih, selama kemiripan itu nggak melebihi 1 bar, belum dibilang ngejiplak. Dan kenyataannya memang banyak terjadi. Nggak usah deh ngomongin jaman sekarang, jaman dulu juga udah ada buktinya. Kalau lo pendengar musik klasik seperti gue, lo akan sering menemukan kesamaan antara komposisi-nya Liszt dan Schumann. Mereka booming di era yang sama, yang berarti nggak jelas siapa yang meniru siapa. Mungkin juga nggak ada yang meniru, mungkin memang mereka satu pikiran aja.

Gue juga bukan penulis lagu (sempat mencoba sih. tapi… hahaha). But I play piano very well, I play guitar (and bass), also a little bit of this and that, so basically I can say I’m a musical person. Dan gue tahu kadangkala ada sepotong nada dari sebuah lagu yang stuck di kepala lo tanpa lo sadar, dan pas lo ada di depan instrumen musik untuk berusaha menulis lagu, lo pun langsung otomatis memainkan nada itu. Mungkin ini yang terjadi sama orang-orang yang bikin lagu mirip-mirip itu.

Well, bisa jadi ini bukan masalah besar. Bisa jadi hanya gue yang terlalu obsesif-kompulsif. Daripada gue sibuk ngurusin siapa ngejiplak siapa, mungkin gue lebih baik berpikir untuk alih profesi jadi DJ mashup aja ya, hehe.. (soalnya sebelum ada yang meng-combine Boulevard Of Broken Dreams-nya Green Day sama Wonderwall-nya Oasis, gue udah berpikir kalau 2 lagu itu tumpang tindih).

Anywaaaays, OOT yang rada self-absorbed dikit. Kemaren gue menghabiskan 10 jam penuh sama Mels, dan tetep masih kurang :-D Terus pas di jalan pulang, gue girang banget karena ada Soon-nya Moonpools & Caterpillar diputer HardRock FM. Amazed sih tepatnya… masih ada orang yang inget lagu itu ya?? Jadi inget jaman nge-band dan ngebawain lagu ini di tiap Pensi dulu, hahahaha… whatta moment to remember. Dan seperti Richard Ashcroft, Jarvis Cocker atau Damon Albarn (kenapa mesti brit-pop semua??) yang sukses going solo, begitu juga Tere, hehehe maksa. A bit exaggerating since our band never really made it that far, but I’m proud of her anyway. At least she got her record deal and became what she is now.
Ah, missed my high-school band. Missed my old drums (which makes me wonder if I can still play one of those now, let alone be performing on stage. It’s been too long).

heroes

January 20th, 2007 by shespider

it all comes down to who’s by your side.

su•per•he•ro (sū’pər-hîr’ō) n., pl. -roes.

a fictional hero having extraordinary or superhuman powers; also : an exceptionally skillful or successful person. By most definitions, characters need not have actual superhuman powers to be deemed superheroes, and sometimes such term  is  used to refer those without such powers who have many other common traits of superheroes.

My friends are my superheroes, seriously. My lifesaver. Bukan gue baru sadarnya sekarang, tapi gue baruuuu aja diingetin lagi. That their existences will keep me strong for as long as I live.

Menurut Helen Fielding via Bridget Jones, when one part of your life starts looking better, another falls spectacularly to pieces. That’s exactly what’s happening to me.
Minggu ini, well terutama 4 hari terakhir sih, gue “berantakan” banget untuk alasan yang cukup menggelikan (sekarang baru deh gue bilang menggelikan, yesterday it was a matter of life and death :D). Mungkin karena udah lama banget banget kali, sejak terakhir gue ngerasa se-“down in the dumps” ini, jadi gue nggak siap. Saking lamanya, gue lupa kalau rasanya se-sucks ini. Hell banget! Tiap malem gue ngalamin Insomnia and the Infinite Sleepless, Mellon Collie and the Infinite Sadness.

*sigh*.
Jadi begini rasanya being rejected. Sumpaaah nggak enak banget. Isi kepala gue kusut banget saking tiap detik keluar formulasi baru tentang kenapa semua bisa berakhir begini. Mo gila rasanya. Pantesan aja ya, Chopin punya karya-karya yang super kusut begitu. Misal: seri Etudes-nya yang bikin gue berhenti belajar piano klasik (nggak lulus2 :p). Atau komposisi Prelude Op. 28… jeez, kusut abis. Gue jadi nggak heran, secara… rejection is his middle name. Nah, bedanya antara orang jenius seperti dia dan rakyat jelata yang pemalas kayak gue, rejection bisa bikin dia menciptakan banyak masterpiece dahsyat, sementara gue… umm… hehehe.

Gue sempet juga sok menghubung-hubungkan hal ini dengan me being 27. All my idols (Kurt, Jim, Janis, Jimi) died voluntarily in their 27. Maybe something bad always happens by this age. Something that’s eating you. Something that makes you want to give up. Maybe even makes you want to kill yourself. In my case, I wanted to kill myself for not being myself. For being so hopeless and hollow and craving something that’s not destined to be for me.

Phew. Kalau aja nggak ada para superheroes gue, mungkin 4 hari bisa jadi 4 minggu, 4 bulan, 4 tahun. They put me back in perspectives instantly. Gue memang tetep belum bisa terima kenyataan, but now at least I know I should just go on.
Gue dikelilingi temen-temen yang hebaaaaaaattt.

Nina. hehe, bener banget lo. I turned from Cameron Diaz to Kate Winslet! (usaha banget nih gue nyari The Holiday ke mana-mana cuma buat membuktikan teori lo). Jadi, is it a good thing or not?  Either way, you saved me from drowning, you really are my sanity.

Tanya. Meski terkapar di tempat tidur akibat tipus, tetep aja rajin nelpon gue setiap hari buat memastikan gue baik-baik aja. In a way, gue pikir perlu juga lo sakit begitu, biar istirahat! Jangan lupa oper buku lo itu ke gue kalau udah kelar baca, hahahaha.

Rika. Selaluuuu aja bisa bikin gue ketawa lagi, apalagi Jumat malem kemaren. I needed that. Meski lo sekarang sebel banget harus stuck di sini, somehow I thank God lo udah balik dari Jerman. Seperti yang lo bilang ke gue, misery loves company. Dan lo tau kan Rik, gue butuh banget ketajaman intuisi detektif lo! Hehehe.

Mels. Damn, you’ve been there since day 1, literally. And now, seratus hari kemudian, you’re still around. What would I do without you?? Semua analogi lo, I love ‘em. They all fit. Iya… gue mau beli Levi’s yang skinny. Gue tungguin deh sampe seri itu keluar.

Sarah, Dimas (lo bilang penampilan gue cuman “lumayan”?? siaaaal), Inti, Brian (lo bener Bri, infatuation).

Gue udah kayak nulis kata pengantar di skripsi aja, atau surat perpisahan sebelum bunuh diri, hahaha… ngga-lah. Now that I could make jokes out of this. Now that I could sleep sound.  Now that no more lying hopeless in  the middle of the nite trying to disappear.

It all comes down to who’s by your side.

Thank you, dear God, for these friends.

one thing leads to another

January 18th, 2007 by shespider

Banyak hal keren yang gue pelajari selepas gue resign dari kerjaan lama gue. Salah satunya adalah, gue jadi lebih bisa menikmati hidup dalam tempo yang masuk akal. I’m taking things more slowly now. Pacing down. Jadi sadar kalau kebahagiaan memang nggak diukur dari materi atau keberhasilan gue memenuhi deadline (dari dulu juga gue tau ini sih, but still). Juga sadar kalau ada kehidupan yang menyenangkan di luar sini antara jam 9 sampai jam 5, yang mana dahulu.. gue mana peduli, jam segitu kan gue di belakang meja.

And it’s really a good thing, being on the road again. Melihat hal-hal yang selama ini luput dari penglihatan gue karena… well, mostly just because. Karena dulu gue nggak pernah punya waktu buat berhenti sejenak melihat semua hal dalam gerak lambat seperti sekarang. Saat gue masih ngantor, rasanya dunia berputar mengelilingi gue. Gue kehilangan banyak hal kecil yang penting. And the world is reeeaaally more beautiful from out here. Hahaha.. kesannya kantor tuh kayak penjara. Nggak sih. Tapi memang “turun ke jalan” lagi setelah sekian lama bikin gue tercengang-cengang. Ternyata banyak banget yang udah gue lewatin selama ini.

Seperti cerita waktu gue ke Kantor Pos Pusat minggu lalu. Kalau nggak mesti ngirim dokumen super penting ke Itali dengan cap pos tanggal 10 Januari, mungkin gue nggak bela-belain datang ke sana. Dulu mana pernah sih gue mikir soal ginian. Mau kirim apapun tinggal panggil OB, kasih tanda tangan, dan kurir kantor bakal ngurusin sampai selesai.

Tapi justru, setelah gue berdiri di atas kaki gue sendiri seperti sekarang, gue jadi sadar kalau kota Jakarta dan sekitarnya ternyata punya banyak kejutan dan rahasia (umm.. bukan rahasia kali, Cha, lo aja telat).

1. Kantor Pos Pusat
Salah seorang temen gue pernah bilang kalau dia nggak percaya lagi sama kantor pos Indonesia dan lebih memilih jasa antar seperti FedEx atau DHL. Well, mudah-mudahan lo baca cerita ini, Mil, dan berubah pikiran.

Kantor pos pusat Jakarta Selatan di Jl. Fatmawati masih sama bentuknya seperti 5 tahun yang lalu, jaman gue sering lewatin tiap hari dalam perjalanan ke Puskesmas tempat gue praktek di Pondok Labu.  Loketnya juga masih 20 (kalau nggak salah hitung). Setelah tanya-tanya, akhirnya gue tahu kalau gue mesti ke loket 12 buat Express Mail Service ke luar negeri.
Pas gue nengok ke loket 12, gue cukup terperangah.. –wuih, segitu banyaknya orang yang mau ngirim sesuatu ke luar negeri? – saking penuhnya area depan loket itu dengan orang berdiri.

Selidik punya selidik, ternyata orang-orang ini nggak ngantri di loket 12, tapi limpahan antrian dari loket sebelahnya. Si loket 11 ini adalah loket pembayaran pajak. Gue terus iseng ngintip ke belakang loket, yang ternyata kosong nggak ada petugasnya. Pantesan antrian membludak begitu, ya nggak ada yang ngurusin. Orang-orang yang ngantri semua misuh-misuh. Bapak-bapak (ini bukan jamak loh) yang berdiri di samping gue langsung curhat colongan “Udah ngantri dari jam 10 nih Mba (saat itu jam setengah satu!), tapi orangnya nggak dateng-dateng juga. Masa mau bayar aja repot?”. “Iya ya, Pak. Padahal kan mo bayar, emangnya minta uang.” jawab gue yang ikutan kesel. Abis sebel ngga sih lo, udah bagus tuh orang-orang jadi warga negara yang baik dan mo bayar pajak, tapi kok mo jadi warga negara yang baik aja malah susah. *emotionally involved, as always :p*

Anyway. Gue pun melanjutkan kepentingan gue sendiri dengan permisi kanan-kiri supaya beberapa orang yang mau bayar pajak itu, sedikit minggir dari depan loket 12. Nggak sampai 5 menit, gue udah dapet tuh tanda terima pengiriman. Dan mo tau yang lebih cool-nya lagi? Ternyata gue bisa nge-track kiriman gue ini via ems.posindonesia.co.id. Keren! Tinggal masukkin barcode-nya aja, langsung keliatan kiriman gue udah sampe mana. Persis kayak lo ngirim uang via Western Union. Sumpah, gue baru tau pos Indonesia udah semaju ini. Hehehe.

Saking kagumnya, gue pun mulai memutar otak. Tugas gue selanjutnya hari itu sebetulnya adalah nganterin CD berisi foto2 artikel gue ke Kompas (karena kalo via email ngga mungkin bo, size-nya bergiga-giga). Tadinya mo gue kirim via agen TIKI deket rumah aja (beda tipis antara pemalas dan practical, hehe). Tapi tiba-tiba muncul ide lain. Udah aja sekalian gue kirim dari situ. Gue pun langsung ngelirik ke loket yang nggak jauh dari situ, loket 15: Pos Express Service. Gue paketin deh tuh CD. Lima menit kemudian, bukti pengiriman udah di tangan, dan ada alamat buat nge-track kiriman gue: express.posindonesia.co.id. Prosedurnya sama, tinggal masukkin barcode aja.

Semua kiriman gue pun sampai dengan selamat di tujuan masing-masing. Pas gue cek di websitenya beberapa hari kemudian, keluar detil pengiriman sampai nama orang yang nganterin, bahkan yang nerima tuh paket! How cool is that?

2. Kampus UI
Di suatu hari yang cerah, gue baru ngeh kalau selama ini gue udah berlaku ignorant sama karir akademis gue. Mungkin ini tahap penyangkalan yang nggak kelar-kelar. Penyangkalan terhadap apa, gue juga nggak tau. Yang jelas, mengingat gue baru ngurusin ijazah S1 gue pas gue udah lulus S2, jangan heran kalau sekarang semua transkrip nilai gue, mau S1 ataupun S2, lenyap entah di mana. Padahal gue lagi butuh. Maka gue pun bertekad akan berangkat ke kampus di Depok, untuk ngurusin transkrip nilai gue. Selain itu, gue merasa perlu menjalin hubungan lagi sama dunia fakultas for future references (apalagi yang sekarang jadi Manajer Mahasiswa & Alumni adalah temen gue, hehehe). Tambahan yang penting lainnya, gue pengen ketemu Mels yang sekarang lagi menuntut ilmu di situ, abis udah lama ga ngobrol-ngobrol, hehehe.

So anyway, I headed to my old campus that sunny Thursday morning. Tapi ternyata begitu sampai… yang terpikir pertama kali adalah: huh? This is not my old campus anymore. Fakultas Psikologi yang jaman gue dulu cuman sampai Gedung E, sekarang udah sampai Gedung H!

Yang lebih menakjubkan lagi, semua area disitu sekarang punya koneksi wi-fi. Hotspot di mana-mana, man! Gratis pula. Gue baru tauuu sekarang UI udah kayak begini. Canggih benerrrr. Pantesan warnet sekitaran Depok udah pada gulung tiker semua. Mahasiswa sekarang juga beda bener sama jaman gue (kesannya tuh gue udah puluhan tahun lulus banget). Abis sejauh mata memandang, ada mahasiswa duduk dengan laptopnya (MacBook pula, damn, apa bedanya sama gue?). Berasa tuaaaaa… tapi berasa pengen balik lagi ke kampus. Berasa sebel juga kenapa jaman gue kuliah dulu, fasilitasnya nggak sekeren ini. Dan cukup mengangetkan karena ternyata dunia akademis di Indonesia udah secanggih itu juga.. waaaw… gue ketinggalan banget ya baru tau ini sekarang.

But most of all, datang ke kampus kemaren itu rasanya seperti pulang ke rumah. Orang-orangnya emang udah nggak  gue kenal, kecuali petugas subbag akademis yang masih inget gue (gara-gara dulu sering banget bolak-balik ke situ buat ngecekin absen, ngitung berapa kali lagi bisa cabut :p). Banyak sudut yang udah berubah juga. Tapi tetep aja, it felt like coming home. Those college years were really the best days of  my life.

3. Galeri Seni

How ironic. Gue yang pernah bercita-cita mau ngambil master di La RUFA (Rome University of Fine Arts) setelah kelar S-1, nyatanya hanya pernah dihitung jari datang ke eksibisi seni rupa di Jakarta (karena cita-cita mulia itu pun pupus seiring dengan terlupakannya segala obsesi naif gue di masa kuliah). Seinget gue, pameran seni yang pernah gue kunjungi seumur-umur hidup di Jakarta cuman sekitaran 4 biji. Satu kali pameran Julian Opie di Museum Nasional, lalu satu kali pameran Monet di GKJ, satu kali pameran Rembrandt di… gue bahkan lupa di mana saking udah lamanya, dan satu lagi pameran DKV di JDC.

Dan galeri independen? Gue bahkan ngga tau kota Jakarta punya kaya gituan, hahahaha. Paling juga gue dateng ke Galeri Cemara, itu pun ke pemutaran film. I know. I’m pathetic. Maka dengan ini gue mengungkapkan permintaan maaf gue akan kebodohan gue yang suka skeptis duluan sama kota ini.

Dan dengan ini kesalahan itu telah diperbaiki. Karena gue akhirnya datang ke sebuah galeri seni di negeri antah berantah bernama Puri Kembangan (di wilayah Jakarta Barat, for those of you who’s like me). It’s called Nadi Gallery. Ini juga nggak sengaja. Kalau nggak diajak sama temen gue yang artsy banget –sampe bikin gue insecure karena sulit nandinginnya, hehe–, mungkin gue nggak bakalan pernah tau (thanks for that, Di :p). Lagi ada eksibisi "Indonesian Contemporary Art Now" di situ.

Datang ke sana perjuangan banget sih, karena peta lokasi yang ada di  websitenya itu nggak up to date dan menyesatkan. But it’s worth it. Totally. Karenaaaa selain gue nggak sangka kalau ada galeri begituan di ujung dunia itu, gue beneran nggak sangka kalau negeri ini punya seniman-seniman sehebat itu. Pas gue baca profil mereka satu-satu, ada yang pernah pameran di Paris-lah, Tokyo, Sydney, even New York. Gokils.  Gue bener-bener ketinggalan. Padahal kan… dulu gue pengen jadi bagian dari ini. Sesuatu yang tadinya gue udah lupa.

Kalau dipikir-pikir, kayaknya 3 tahun yang gue habiskan di kantor lama gue, bikin waktu berhenti 3 tahun buat gue. Dan sekarang gue pun terengah-engah mengejar ketinggalan gue.

I’m not sorry, though. Nor worry. I have the time of my life now.

a random pointless thought.

December 18th, 2006 by shespider

I was at the Nikitsu Shrine when the black rain started falling from the sky. I ran as fast as I could. Faster than I was able to run. When I reached Tokiwa Bridge, there were soldiers lying on the ground. Around Hiroshima Station, I saw more people lying dead. I saw a young girl coming toward me. Her skin was melting down her. It was like a wax. She was muttering, “Mother. Water. Mother. Water.” I thought she might be Masako. But she wasn’t. I kept looking for Masako. I heard someone crying “Mother!”. I recognized her voice. I found her in horrible condition. And she still appears in my dream that way. There were maggots in her wounds and a sticky yellow liquid. I tried to clean her up. But her skin was peeling off. The maggots were coming out all over, I couldn’t wipe them off, or I would wipe off her skin and muscle. She died in my arms, saying “I don’t want to die”. This is what death is like. It doesn’t matter what uniforms the soldiers are wearing. It doesn’t matter how good the weapons are. I thought if everyone could see what I saw, we would never have war anymore.
(a testimony on 1945’s Hiroshima bombing, quoted from Extremely Loud & Incredibly Close J.S Foer)

The world is totally fu**ed up. I don’t get it.
Selesai parade film cult di JIFFEST 8th, dengan gue berhasil menonton 16 film (masih kalah jauh dari rekor tahun lalu, 22 film, hehehe), dua kalimat itu yang menyisa di kepala gue. The world is totally fu**ed up. I don’t get it.

Gue udah berusaha menghindari film-film depresi, karena biasanya habis nonton film begitu, mood gue langsung jatuh ke titik terendah. Tapi pada akhirnya, setengah film yang gue tonton malah bikin depresi.

Di film The Ninth Day, gue melihat kepala seorang tawanan kamp konsentrasi Nazi di Dachau dikikis pakai besi tajam oleh seorang perwira SS. Di film The Wind That Shakes The Barley, gue melihat kuku tangan seorang pemimpin Irish Republican Army dicabut satu-satu pakai tang karatan oleh sekumpulan tentara Inggris. Di film Pan’s Labyrinth, gue melihat ibu jari seorang gerilyawan Meksiko dihancurin pakai martil oleh seorang kapten Spanyol.

Jadi memang nggak peduli seragam apa yang dipakai, senjata apa yang dipakai, atau siapa yang menang perang. Manusia adalah makhluk terjahat yang pernah diciptakan oleh Tuhan. Jauh lebih kejam dari Hyenna (binatang ini adalah satu-satunya binatang yang memakan korbannya pelan-pelan dalam keadaan masih hidup). Sumpah mati gue lebih memilih nonton film hantu paling menyeramkan di dunia, daripada melihat sekelompok manusia menyiksa manusia lainnya seperti di film-film itu. That’s sickening.

Noone gives a damn on Article 4 of the Third Geneva
Convention, where stated that it would be illegal to torture prisoners. Dan kenapa ada pengadilan buat penjahat perang? Bukannya semua yang ikut perang adalah penjahat? That word is really twisted.

What I’m saying is, kita memang nggak pernah tahu apa yang sebetulnya terjadi di dalam penjara Guantanamo, tempat Bush menyekap tawanan terorisnya (yang menurut sebuah kantor berita, adalah penjara dengan fasilitas penyiksaan paling canggih di dunia). But there are war movies like those I saw. Paling nggak orang-orang kayak kita jadi punya bayangan lebih tentang situasi perang.

Still there are wars. And still, there are war movies. Karena film-film paling bagus yang pernah dibuat di industri film, justru adalah film perang. So ironic it breaks my heart.

The world is totally fu**ed up. Biarpun udah tahu apa yang terjadi, tapi tetap membiarkan itu terjadi.

“I thought if everyone could see what I saw, we would never have war anymore.”

Totally not.
Semua berhenti saat credit title bergulir. Semua kembali menjalankan kehidupannya masing-masing. Dan satu kuku lagi dicabut dari seorang tawanan perang. Atau satu gigi.