Yup, this is my first weekend in town after
2 months. And I’m not exaggerating.
Mulai September, no more traveling at weekends to the middle of
nowheres. No more novelties. No more
rushing and running for boarding at the airports. No more great local food. No
more having lack of sleeping that made my under-eye circles turned even darker
week to week. No more weird and hilarious nightclubs that were musically 10
year behind.
Finally. No more going out there on the roads for the same
show over and over again.
It’s relieving, yet making me sad. Gue selalu benci mengakhiri sesuatu. Tapi yang paling membuat gue sedih adalah: no more clear
blue skies and open green field for my sore eyes at the end of the weeks.
Clear blue skies. I fell in love with the sky ever since I
can’t remember when. Inget nggak dulu ada jingle iklan yang liriknya begini:
"I love the blue of Indonesia…
it’s my kind of blue" (rokok kompetitor sih, tapi kan gue ga nyebut brand, hehe). Mengingat
sehari-hari nggak pernah ketemu langit biru di Jakarta,
rasanya menyenangkan sekali bisa melihat biru itu setiap akhir minggu di 10 kota yang gue tandangi
dalam 10 minggu terakhir ini. Dengan modifikasi yang berbeda-beda di tiap
daerah tentunya, but still… it’s the bluest blue.
I feel so blessed. Not living in this country (belum se-ekstrem
itu, mungkin perlahan-lahan), but having to experience it all. I fuckin earned
it!
And it’s a beautiful country, indeed.
Ajaibnya, Kompas Minggu (26.08) kemaren, tepat di hari
terakhir gue roadshow, headline di halaman depannya berbunyi: "Mengelola Rasa
Cinta Tanah Air". Meski isi artikelnya adalah tentang ekspedisi ke tanah
Papua, entah kenapa gue merasa relate banget sama judul itu. Mungkin 2 bulan
ini adalah pengelolaan rasa cinta tanah air yang bagus buat gue. Sebenernya gue
bukan nggak cinta tanah air, tapi adaaaa aka hal yang membuat gue pengen flee aja dari sini.
Mungkin juga bukan karena tanah airnya sih, tapi karena sifat dasar gue yang selalu
pengen flee dari apapun *curhat colongan*
So anyways, back to the reason why I’m here. Lama sekali
nggak menyambangi blog ini. Yahh.. menelantarkan hal-hal di sekitar gue.. bukan
hal baru *curhat colongan #2*. Mestinya gue bisa menyulap blog ga penting ini
jadi sebuah travel journal yang seru, menulis semua yang gue alami tiap kali
gue pulang, tapi rasa malas gue untuk melakukan sesuatu yang rutin tetap tidak
terkalahkan. Jadi marilah kita recap semuanya dalam satu kali posting saja.
Besides, I might bore you all.
Sebetulnya perjalanan gue ini lebih menyerupai a long chain
of irony. Gimana nggak. Jalan-jalan di Solo (terutama bagian Solo Baru) berasa
jalan di Boulevard Kelapa Gading. Malang kayak Bintaro sektor 9. Pontianak kaya Jakarta Kota. Dan seterusnya (Gue lagi berusaha mengingat Makassar mirip
sama bagian Jakarta sebelah mana, tapi gue agak
lupa karena Sabtu malam di Makassar dihabiskan
dengan mabuk-mabukan, hehe).
Kesimpulannya, Jakarta ini
emang lebih mirip kampung besar, bukan kota dalam arti yang sebenarnya.
Nggak jelas gini tata kotanya, nggak ada pusat (karena semua tempat adalah
pusat), nggak ada suburb.Yang lebih aneh lagi, kota udah nggak jelas bentuknya
kayak gini masih mau dibikin jadi Megapolitan dengan menggabungkan area-area
‘bodetabek’ jadi satu wilayah Ibukota. Bodoh.
Berkat tur keliling 10 kota ini juga gue merasakan
menaiki berbagai maskapai penerbangan domestik (serta merasakan betapa hancur
lebur dan terbengkalainya Terminal 1 Soekarno-Hatta. Gimana pariwisata lokal
mau maju, huh). Gue menaiki mulai dari GARUDA (stands for: Good And Reliable
Until Delay Is Announced), Lion Air, Adam Air, Batavia Air, sampai Sriwijaya
Air. Nggak ada bedanya gitu satu sama lain, ya tingkat kebersihan pesawatnya,
kepiawaian pilotnya, sampai kualitas pelayanannya. Gue jadi nggak habis pikir
sih sebenernya, kenapa orang nggak mau menaiki suatu airlines karena
reputasinya buruk akibat pernah crashed. Lagipula, bukankah kita bisa mati di
mana aja? Kepleset di kamar mandi, misalnya. Atau keselek. Atau hal-hal minor lainnya yang bisa terjadi sehari-hari. Hehehe… tentu saja ini datang dari
seorang frequent flyer seperti gue, yang merasa bahwa acara take-off dan
landing pesawat adalah a reason for living. I’m in love with
everything that allows me to fly *curhat colongan #3*
Kedatangan gue ke kota-kota pertama yang harus gue singgahi,
Bandung-Medan-Surabaya, bukan untuk yang pertama kalinya. Ya iyalahh, Bandung kaleee.. no
explanation needed (apalagi dengan adanya tol Cipularang yang pernah gue anggap
sebagai inovasi terhebat dekade ini, meski sekarang gue nggak pernah ada
kepentingan lagi ke Bandung *curhat colongan #4*). Terus, pekerjaan gue sebelumnya membuat gue sudah
beberapa kali mendatangi 2 kota terbesar di Indonesia setelah Jakarta, yang mana adalah Medan dan Surabaya.
Tapi kota-kota berikutnya sangat menarik. Menyenangkan banget bisa membandingkan kota satu dan
lainnya. Makassar dengan kegilaan
orang-orangnya dalam menyetir (sumpah sob, gokil abis), berbanding terbalik
dengan Solo yang kecepatan rata-rata tiap kendaraan adalah 20km/jam. Dan
Malang… ah, gue jatuh cinta sama Malang.
It’s so serene I could cry. I would love to spend my old days there (but since
I will die young –live fast, die young!- tentu saja itu tidak akan terjadi).
Gue pun akhirnya bisa mendaratkan kaki di pulau Kalimantan,
komplit di keempat propinsinya (kalau betul hitungan gue ada 4 propinsi di sana ya, hehe). Melihat
pulau ini dari udara saja membuat gue berpikir bahwa kita punya negeri yang
teramat kaya. Di atas Kalimantan Barat gue melihat kelokan sungai yang nggak
terputus. Di atas Kalimatan Selatan gue melihat garis pantai panjang dengan
lautan berwarna gradasi biru-hijau-biru. Di atas Kalimantan Timur dan Tengah
gue melihat hamparan hutan hijau yang membuat Borneo ini dikatakan sebagai paru-paru dunia (meski penduduknya rajin mengotori
paru-parunya dengan “merokok” – baca: pembakaran hutan, red.).
Gue bertemu banyak kejutan di Pontianak. Well, untungnya bukan kejutan mistis a.k.a kuntilanak (Pontianak dalam bahasa Melayu artinya
kuntilanak, mind you. Dinamakan demikian karena dikenal sebagai gudangnya hantu bentuk perempuan berambut panjang itu. Dennis dan Daniel baru bilang ke gue pas pesawat
mendarat di bandar udaranya pula. Udah nggak bisa kabur lagi kan tuh). Tapi sungai Kapuas emang sinting. Lebar banget kaya laut. Udah gitu kalau malem-malem bisa naik
semacam gondola gitu melewati kolong-kolong jembatannya (Venice, anyone?). Gue
juga baru tahu kalau pada satu hari tertentu di bulan Mei (dan hanya berlangsung selama beberapa menit saja), tepat di tugu khatulistiwa, kita akan kehilangan bayangan kita
karena sinar matahari tepat menyoroti garis khatulistiwa. Keren kan. Selain itu, gue cukup terkejut
melihat betapa kota ini sedikit mirip sama
Frankfurt dari segi tata kota. Old Town
dan New Town dipisahkan oleh sungai (cuman beda di nama –di sana Main, di sini Kapuas— sama di warna airnya aja –di sana biru, di sini coklat pekat–, hehehe).
Kesempatan untuk mengunjungi hometown-nya Ian
Kasela, Banjarmasin, tidak gue lewatkan (hahahaha jiji abis sih kalimat ini). Apaan ya yang khas dari Banjarmasin selain soto Banjar dan lampit? Mungkin pengalaman pas jalan-jalan di pertokoan pinggiran sungai Barito, nggak taunya ada
kulit biawak nangkring di dinding. Males gilak *diucapkan ala abege*. Ada juga restoran yang menyajikan menu sate buaya. Berasa jadi Crocodile Dundee *God bless
Steve Irwin*. Dari Banjarmasin, gue melakukan perjalanan darat selama 4 jam
lebih ke sebuah negeri antah berantah bernama Barabai. Kota yang lebih mirip
kompleks perumahan saking kecilnya, tapi warganya pakai handphone Nokia E90
(yang harganya pernah mencapai 15 juta)
buat foto-foto sama Nirina dan Junior. How ironic is that?
Dua kota terakhir yang gue
datangi adalah Balikpapan
dan Palangka Raya. Well, Kalimantan Timur dengan Balikpapan-nya adalah sebuah
contoh bagus yang mestinya bisa membuat pemerintah pusat belajar banyak. Bahwa
pusat niaga dan pusat pemerintahan memang seharusnya tidak disatukan. Ini yang
terjadi di Kaltim. Samarinda jadi ibukota, sementara Balikpapan jadi pusat niaga. And it works.
Why, oh why, pemerintah pusat nggak pernah melihat betapa efektifnya pemisahan
ini, apalagi di negara kepulauan begini. Pulaunya ada 13 ribu lebih pula. Segitu banyaknya pulau tapi segalanya mesti diabrek—abrekin di Jakarta? Ah ya sudahlah.
Mau tau ngga yang lebih ironis lagi? Untuk mencapai Palangka Raya yang
terletak di Kalimantan Tengah, dari Balikpapan gue harus naik connecting flight di Jakarta.
Hahaha.. padahal kalau ada flight langsung, perjalanan hanya perlu ditempuh
selama paling sial 30 menit. Ini gue harus menyediakan waktu selama 5 jam.
Palangka Raya is perhaps another example of irony. Contrary
to the name, Palangka Raya (Great Palangka) isn’t that great, really. In term
of size, of course. Dulu, bokap gue dan gue pernah berdiskusi tentang ide
memindahkan ibukota Indonesia ke sini. Kota ini memang out of nowhere, but exactly in the middle. (and a friend of mine
said to me just the other day that this city was built from scratch by Soekarno
to become a capital city! Keren juga kan pemikiran gue sama kayak Soekarno, hahaha).
Palangka Raya tadi sekaligus menutup rangkaian perjalanan panjang gue.
Dan sekarang saatnya gue menghela nafas panjang. Akhirnya berakhir juga semuanya. Dengan bangganya, sekarang gue bisa bilang kalau tinggal Papua saja yang belum diinjak kaki gue, dari semua pulau besar di Indonesia.
Akhir kata (hehehehe), thank God for that job, really. Nggak hanya buat kesempatan jalan-jalan itu, tapi juga buat ketemu orang-orang yang sangat menyenangkan secara personal maupun profesional, serta untuk semua pelajaran baru dalam hidup. Mengambil pekerjaan itu, terlepas dari segala down-in-the-dumpsnya, adalah salah satu keputusan paling betul gue di umur 27.
Now, move on with the show.